Pembaca yang Budiman. Situs Tanah Bangkalae merupakan suatu tempat dipersatukannya tiga tanah yang secara adat didatangkan dari tiga Kerajaan Besar di Sulawesi, yaitu Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa. Hasil penyatuan dari sampel ketiga tanah tersebut maka terjadilah perubahan warna dari masing-masing warna aslinya. Setelah dipadukan ketiga tanah tersebut serta merta berubah menjadi warna kemerah-merahan dalam bahasa Bugis disebut Bangkala' yang kemudian disebut “Tanah BangkalaE”. Karena memberikan makna yang diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa selanjutnya ketiga tanah tersebut dinamakan “Tanah Ri Tappa Dewata” yaitu, tanah yang dibentuk oleh Allah yang Maha Kuasa.
Perlu dipahami bahwa situs Tanah Bangkalae bukanlah makam / pekuburan tetapi merupakan Tugu Peringatan dimana ketiga kerajaan menyatakan tekad damai. Semoga kedepan ada upaya pihak berwenang agar di sana dapat berdiri semacam Tugu. Dulu di area Taman Bunga Watampone pernah berdiri Tugu Merdeka sebagai Tanda menyatunya kerajaan Bone ke pangkuan Negara Republik Indonesia. Akan tetapi Tugu itupun lenyap .. hm....
Lebih baik simak yang di bawah ini
1.Kerajaan Bone
Kerajaan bone adalah satu kerajaan yang besar pengaruhnya di Sulawesi Selatan yang mulai berdiri pada abad 14 masehi dengan ibu kotanya lelebata watampone yang terletak dipantai timur jazirah selatan pulau Sulawesi ditepi teluk bone.
Kerajaan ini pertama-tama didirikan oleh Manurungnge, yaitu seseorang yang datang secara tiba-tiba tanpa diketahui asal usulnya sehingga disebut oleh masyarakat Tomanurung yaitu manusia yang turun dari langit/kayangan untuk menjadi raja ditana bone sehingga masyarakat mengangkat menjadi raja.
Benda-benda kerajaan bone yang tersimpan di museum yaitu:
Teddung pulawengnge
Bendera samparajae
Bendera warong porongnge
Bendera ulubaloe
Bendera lima siatingnge
Bender garudae
Salempang kerajaan bone
Pedang latea ridunu
Keris lamakawe
Tombak la salaga
Stempel kerajaan bone
Silsilah kerajaan bone
Sturktur pemerintahan
Foto raja Bone
2.Kerajaan Gowa
Kerajaan Gowa adalah salah satu kerajaan yang besar di Sulawesi Selatan pada abad 15-16 wilayah kekuasaannya kepulauan sunda kecil (NTB) Kalimantan Timur. Maluku bahkan diperkirakan sampai di Australia Utara. Ibukotanya adalah Somba Opu terletak di pantai barat Jazirah selatan Pulau Sulawesi (disebelah selatan kotamadya Makassar).
Bukti-bukti kebesaran kerajaan Gowa dizaman lampau dapat dilihat melalui benda-benda peninggalannya baik berupa bangunan monument, berupa benteng, istana, masjid, kompleks perkuburan dan batu pelantikan berupa naskah cerita rakyat yang masih tetap terpelihara.
Benda-benda kerjaan Gowa yang tersimpan di museum yaitu:
Salakoa
Sudanga
Salempang
Ponto janga-jangayya
Paying ubu-uburru
Paying la’lang sipue
Peralatan makan (bosara, piring, dan gelas)
Peralatan tidur (katinoang)
Lemari
Silsila kerajaan
Peta kekuasaan
Maket istana Gowa
Naskah perjanjian Bongaya tahun 1667
Maket Balla Lompoa
Terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. Ini merupakan reproduksi dari balla lompoa yaitu bekas raja gowa, berfungsi sebagai tempat bermusyawarah untuk memutuskan segala sesuatu yang menyangkut segala sesuatu yang menyangkut kelangsungan hidup kerajaan dan sekaligus sebagai tempat kediaman raja. Asal dari Sungguminasa Kabupaten Gowa. Tiangnya berjumlah 59 buah,
Salokoa
Terbuat dari emas dan batu permata berbentuk kuncup bunga, teratai yang mempunyai lima helai kelopak daun. Fungsinya dipergunakan pada saat pelantikan Raja Gowa. Menurut mitologi orang gowa Salokoa muncul bersama dengan munculnya To Manurung yaitu raja Gowa abad ke-13.
Ponto janga-jangaya
Benda tersebut terbuat dari bahan perak sepuh emas berbentuk menyerupai ular naga melingkar, mata terbuat dari permata berwarna biru. Benda ini dipergunakan pada saat hari-hati bersejarah seperti pada saat pelantikan raja. Berfungsi sebagai gelang tangan, benda tersebut merupakan replica. Ukuran berat 234 gram
Payung atau la’lang sipue terbuat dari daun lontara sejenis palem bentuk setengah lingkaran (elips) pada sisi kanan terdapat sayap tinggi 2 meter benda ini dibuat 18 masehi. Fungsi dipregunakan raja pada saat pergi berperang.
3. Kerajaan Luwu
Surek La Galigo (Lontara Luwu) Ditulis dalam lontara bahasa bugis ini naskah antara lain:
Susunan raja-raja Luwu
Pesan Matinroe Ri tompo tikka
Pesan arung padecengi Tanana
Pesan potta matinroe rikanana
Syarat-syarat yang dipenuhi kemedan perang
Peralatan makanan
Ota-otang (wadah sarumuan siri dan tempat kapur dan siri)
Lipa patola (sarugn permaisuri raja turun temurun)
Bendera gonjingnge
Bendera kamumue
Tempat tidur raja
Kursi sopa terbuat dari kayu jati
Bendera macangnge
Struktur pemerintahan raja Luwu
Penginangan
Terbuat dari bahan kuningan, wadah berbentuk bundar dengan peralatan terdiri dari; tempat daun sirih, tempat gambir, pinang, kapur, dan tempat tembakau. Berfungsi sebagai peralatan upacara-upacara adat yang dipergunakan sebagai wadah makan sirih.
Koleksi budaya yang ada dimuseum:
Miniatur Perahu Pinisi
Alat transportasi laut antara pulau dan benua untuk perahu lomba arung samudra, mengarungi lautan dalam antar pulau, antara negara memakai layar tanpa memakai mesin mengangkut komoditi export juga dipakai sebagai kapal pesiar serta sarana pariwisata. Asal kabupaten Bulukumba.
Perahu Patorani
Perahu ini dipergunakan untuk menangkap ikan terbang, memakai layar bersegi empat disebut layar (sombala) tanja (Makassar) atau sompe tanja (Bugis) palatto (mandar) daya angkut perahu ini sekitar 4 ton dan pada umumnya kini telah menggunakan mesin sebagai motoril. Asal mandar kabupaten Polmas
Perahu Soppe
Soppe adalah sampan yang bobotnya lebih besar dapat mengangkut beberapa kwintal barang untuk keseimbangan diberi cadik bugis (watik) Makassar (pallewai) mandar (palatto). Terbuat dari bambu atau kayu ringan difungsikan sebagai perahu untuk menangkap ikan dan mengangkut hasil tangkapan ikan ketempat pelelangan.
Bagang Tancap
Berfungsi sebagai tempat nelayang memasang dan menunggu jaringnya peralatan menangkap ikan seperti ini hanya dapat dipergunakan dilaut dangkal dan tidak mudah untuk berpindah-pindah seperti ini ialah ikan terbang mairo, kepiting, udang cumi-cumi. Asal kabupaten Barru.
Roppong
Berfungsi sebagai sarana menangkap ikan di laut dalam:
Tempat ikan berkumpul
Tempat para nelayan memasang jala roppong
Tempat para nelayan memancing sementara menunggu jalannya Ruangan Kerajaan Gowa & Bone di Benteng Ujung Pandang
PENINGGALAN TIGA KERAJAAN BESAR DI SULAWESI
Written By Yushan on Monday, 21 March 2016 | 06:43:00
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or Site Map to receive more great content just like it.