A. Latar Belakang
Manusia pada dasarnya adalah makhluk terbaik dari sekian makhluk yang diciptakan Allah s.w.t lainnya. Manusia diberi kehormatan atau karamah, bahkan lebih dari itu ia diangkat menjadi khalifah Allah di atas bumi ini. Kemuliaan manusia ditandai dengan pemberiannya yang sangat bermakna tertinggi, sehingga menjadikan manusia dapat menguasai alam ini. Pemberian itu berupa akal dan pikiran yang mampu mengangkat harkat dan derajat manusia. Dengan akal pikiran, manusia dapat menerima, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai khalifah Allah, manusia pada dasarnya telah dibekali dengan tiga potensi di atas, yaitu akal pikiran, nafsu dan perasaan. Dengan bekal inilah manusia mampu menjalankan kekhalifahan untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, serta lingkungannya. Masalahnya kemudian adalah seberapa jauh manusia melaksanakan kemampuannya itu. Hal ini akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan mewujudkan keseimbangan antara tiga potensi tersebut ketika diperankan dalam sikap dan prilaku kekhalifahan.
Dalam konteks pelestarian lingkungan, Islam memberikan perhatian dan dukungan terhadap setiap upaya ke arah pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, Islam secara jelas menegaskan bahwa upaya-upaya pelestarian lingkungan harus didasari oleh etika yang luhur. Dikatakan demikian karena pelestarian lingkungan yang didasari atas etika dan moral, akan berdampak pada terwujudnya prilaku atau karakter yang ramah lingkungan.
Al-Quran menyatakan bahwa manusia telah menerima alam sebagai amanah dan sebagai tempat perjuangan moralnya, setelah sebelumnya langit, bumi dan gunung-gunung telah menolak memikul tanggung jawab ini, sedangkan manusia menerimanaya dengan sukarela (QS. al- Ahzab: 72). Amanah merupakan perjanjian antara Tuhan dan manusia serta memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengelola alam (lingkungan hidup). Persyaratan amanah pada hakekatnya dilihat dari adanya tanggung jawab dan konsekuensi moral maupun material. Secara moral, manusia bertanggung jawab menjadikan bumi sebagai wadah kehidupan yang penuh kedamaian dan ketenangan bagi seluruh makhluk hidup. Sedangkan secara material, manusia bertanggung jawab untuk menata alam beserta isinya untuk dimanfaatkan dengan baik dan benar. Oleh karena itu, keliru jika lingkungan atau alam dijadikan sebagai tempat untuk mengeksploitasi kekayaan alam (memanfaatkan alam dengan melampaui batas).
Perlu keseimbangan atau at-tawasuth dalam pengeksploitasian dan pengereboisasian lingkungan. Keseimbangan dimaksud memerlukan ukuran-ukuran tertentu, berkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan manusia baik lingkungan alam maupun lingkungan komunitas yang berpengaruh besar dan akan menjadi pertimbangan. Bila keseimbangan itu hanya diukur dengan subyektifitasnya sendiri, dapat menimbulkan kerawanan tertentu dan tidak mustahil mengakibatkan keresahan pada dirinya sendiri dan lingkungannya.
Berangkat dari konsep kekhalifaan, maka untuk mengetahui situasi dan kondisi lingkungan kita di era modernis ini, diperlukan observasi atau pengamatan dibeberapa wilayah-wilayah tertentu yang tidak menutup kemungkinan memiliki sumber daya alam yang bervariaasi. Khususnya di pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng, merupakan wilayah yang sering dikunjungi oleh masyarakat setempat dan para pendaki dari berbagai penjuru, namun tidak menutup kemungkinan perhatian akan kondisi lingkungan di wilayah tersebut masih minim baik perhatian dari masyarakat setempat atau para pendaki dari berbagai penjuru ini,.
B.Rumusan Masalah
Bertitik tolak pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan atau rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1.Bagaimana klasifikasi data pegunungan Bawakaraeng ?
2.Bagaimana skenario perjalanan menuju pegunungan Bawakaraeng?
C. Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama “Pengambilan Slayer Kuning Anggota Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE”.
D.Tema Kegiatan
Adapun tema kegiatan ini yaitu “Membentuk Karakter Pencinta Alam yang Berkompoten dan Bertanggung Jawab”. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang maksud tema tersebut, maka dalam uraian ini dipandang perlu menjelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1.Membentuk : menjadikan, mendirikan.
2.Karakter : watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak.
3.Pencinta : orang yang sangat suka.
4.Alam   : keadaan, usaha untuk manusia mempengaruhi
5.Berkompoten : cakap, berkuasa memutuskan sesuatu.
6.Bertanggung Jawab : keadaan wajib menanggung sesuatu, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak orang lain. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa maksud dari tema diatas adalah membentuk karakter atau prilaku pencinta alam yang cakap, berkuasa memutuskan sesuatu dan bekualitas serta bertanggung jawab dalam segala hal, terkhusus pada esensi manusia sebagai khalifah dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan.
E.Tinjauan Pustaka
Sesuai dengan berita yang diterima oleh Peserta pengambilan slayer kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE, tentang kondisi alam di pegunungan Bawakaraeng, maka kami termotivasi untuk melakukan pendakian serta pengamatan di lokasi tersebut. Adapun literatur yang digunakan untuk mendukung pembahasan kegiatan ini, adalah beberapa situs internet yang membahas tentang pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng disertai dengan pengamatan langsung di lapangan.
F.Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan Pengambilan Slayer Kuning HIMPUNAN Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakt ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE adalah:
1.Waktu pelaksanaan kegiatan
Adapun waktu pelaksanaan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE “ Jumat – Minggu Tanggal 30 November-02 Desember 2012
2.Tempat pelaksanaan kegiatan
Adapun tempat pelaksanaan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE:
a.Outdoor:
Gunung Bawakaraeng, Dusun Tassoso.
G.Tujuan dan Kegunaan Kegiatan
Tujuan kegiatan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE:
1.Tujuan kegiatan
Adapun tujuan Pengambilan Slayer Kuning ini adalah:
a. Untuk mengetahui klasifikasi data pegunungan Bawakaraeng.
b. Untuk mengetahui skenario perjalanan menuju pegunungan Bawakaraeng.
2.Kegunaan kegiatan
Adapun kegunaan kegiatan ini adalah:
a. Sebagai peralihan status dari anggota biasa menjadi anggota penuh Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE.
b. Sebagai gagasan penelitian yang akurat dan sistematis tentang pegunungan Bawakaraeng.
c. Sebagai bahan bacaan ( literature ) bagi Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat (HIMALAYA) pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
H.Dana Kegiatan
Adapun sumber dana kegiatan ini diperoleh dari swadaya peserta Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE. (Estimasi anggaran terlampir).
I. Pendamping dan Peserta
Adapun nama-nama pendamping dan peserta pengambilan slayer kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE
Manusia pada dasarnya adalah makhluk terbaik dari sekian makhluk yang diciptakan Allah s.w.t lainnya. Manusia diberi kehormatan atau karamah, bahkan lebih dari itu ia diangkat menjadi khalifah Allah di atas bumi ini. Kemuliaan manusia ditandai dengan pemberiannya yang sangat bermakna tertinggi, sehingga menjadikan manusia dapat menguasai alam ini. Pemberian itu berupa akal dan pikiran yang mampu mengangkat harkat dan derajat manusia. Dengan akal pikiran, manusia dapat menerima, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai khalifah Allah, manusia pada dasarnya telah dibekali dengan tiga potensi di atas, yaitu akal pikiran, nafsu dan perasaan. Dengan bekal inilah manusia mampu menjalankan kekhalifahan untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, serta lingkungannya. Masalahnya kemudian adalah seberapa jauh manusia melaksanakan kemampuannya itu. Hal ini akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan mewujudkan keseimbangan antara tiga potensi tersebut ketika diperankan dalam sikap dan prilaku kekhalifahan.
Dalam konteks pelestarian lingkungan, Islam memberikan perhatian dan dukungan terhadap setiap upaya ke arah pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, Islam secara jelas menegaskan bahwa upaya-upaya pelestarian lingkungan harus didasari oleh etika yang luhur. Dikatakan demikian karena pelestarian lingkungan yang didasari atas etika dan moral, akan berdampak pada terwujudnya prilaku atau karakter yang ramah lingkungan.
Al-Quran menyatakan bahwa manusia telah menerima alam sebagai amanah dan sebagai tempat perjuangan moralnya, setelah sebelumnya langit, bumi dan gunung-gunung telah menolak memikul tanggung jawab ini, sedangkan manusia menerimanaya dengan sukarela (QS. al- Ahzab: 72). Amanah merupakan perjanjian antara Tuhan dan manusia serta memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengelola alam (lingkungan hidup). Persyaratan amanah pada hakekatnya dilihat dari adanya tanggung jawab dan konsekuensi moral maupun material. Secara moral, manusia bertanggung jawab menjadikan bumi sebagai wadah kehidupan yang penuh kedamaian dan ketenangan bagi seluruh makhluk hidup. Sedangkan secara material, manusia bertanggung jawab untuk menata alam beserta isinya untuk dimanfaatkan dengan baik dan benar. Oleh karena itu, keliru jika lingkungan atau alam dijadikan sebagai tempat untuk mengeksploitasi kekayaan alam (memanfaatkan alam dengan melampaui batas).
Perlu keseimbangan atau at-tawasuth dalam pengeksploitasian dan pengereboisasian lingkungan. Keseimbangan dimaksud memerlukan ukuran-ukuran tertentu, berkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan manusia baik lingkungan alam maupun lingkungan komunitas yang berpengaruh besar dan akan menjadi pertimbangan. Bila keseimbangan itu hanya diukur dengan subyektifitasnya sendiri, dapat menimbulkan kerawanan tertentu dan tidak mustahil mengakibatkan keresahan pada dirinya sendiri dan lingkungannya.
Berangkat dari konsep kekhalifaan, maka untuk mengetahui situasi dan kondisi lingkungan kita di era modernis ini, diperlukan observasi atau pengamatan dibeberapa wilayah-wilayah tertentu yang tidak menutup kemungkinan memiliki sumber daya alam yang bervariaasi. Khususnya di pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng, merupakan wilayah yang sering dikunjungi oleh masyarakat setempat dan para pendaki dari berbagai penjuru, namun tidak menutup kemungkinan perhatian akan kondisi lingkungan di wilayah tersebut masih minim baik perhatian dari masyarakat setempat atau para pendaki dari berbagai penjuru ini,.
B.Rumusan Masalah
Bertitik tolak pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan atau rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1.Bagaimana klasifikasi data pegunungan Bawakaraeng ?
2.Bagaimana skenario perjalanan menuju pegunungan Bawakaraeng?
C. Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama “Pengambilan Slayer Kuning Anggota Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE”.
D.Tema Kegiatan
Adapun tema kegiatan ini yaitu “Membentuk Karakter Pencinta Alam yang Berkompoten dan Bertanggung Jawab”. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang maksud tema tersebut, maka dalam uraian ini dipandang perlu menjelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1.Membentuk : menjadikan, mendirikan.
2.Karakter : watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak.
3.Pencinta : orang yang sangat suka.
4.Alam   : keadaan, usaha untuk manusia mempengaruhi
5.Berkompoten : cakap, berkuasa memutuskan sesuatu.
6.Bertanggung Jawab : keadaan wajib menanggung sesuatu, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak orang lain. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa maksud dari tema diatas adalah membentuk karakter atau prilaku pencinta alam yang cakap, berkuasa memutuskan sesuatu dan bekualitas serta bertanggung jawab dalam segala hal, terkhusus pada esensi manusia sebagai khalifah dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan.
E.Tinjauan Pustaka
Sesuai dengan berita yang diterima oleh Peserta pengambilan slayer kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE, tentang kondisi alam di pegunungan Bawakaraeng, maka kami termotivasi untuk melakukan pendakian serta pengamatan di lokasi tersebut. Adapun literatur yang digunakan untuk mendukung pembahasan kegiatan ini, adalah beberapa situs internet yang membahas tentang pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng disertai dengan pengamatan langsung di lapangan.
F.Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan Pengambilan Slayer Kuning HIMPUNAN Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakt ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE adalah:
1.Waktu pelaksanaan kegiatan
Adapun waktu pelaksanaan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE “ Jumat – Minggu Tanggal 30 November-02 Desember 2012
2.Tempat pelaksanaan kegiatan
Adapun tempat pelaksanaan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE:
a.Outdoor:
Gunung Bawakaraeng, Dusun Tassoso.
G.Tujuan dan Kegunaan Kegiatan
Tujuan kegiatan Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE:
1.Tujuan kegiatan
Adapun tujuan Pengambilan Slayer Kuning ini adalah:
a. Untuk mengetahui klasifikasi data pegunungan Bawakaraeng.
b. Untuk mengetahui skenario perjalanan menuju pegunungan Bawakaraeng.
2.Kegunaan kegiatan
Adapun kegunaan kegiatan ini adalah:
a. Sebagai peralihan status dari anggota biasa menjadi anggota penuh Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE.
b. Sebagai gagasan penelitian yang akurat dan sistematis tentang pegunungan Bawakaraeng.
c. Sebagai bahan bacaan ( literature ) bagi Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat (HIMALAYA) pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
H.Dana Kegiatan
Adapun sumber dana kegiatan ini diperoleh dari swadaya peserta Pengambilan Slayer Kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE. (Estimasi anggaran terlampir).
I. Pendamping dan Peserta
Adapun nama-nama pendamping dan peserta pengambilan slayer kuning Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE
Keterangan: Lampiran surat Badan Pengurus Harian ( BPH ) Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA) STAI AL-GAZALI BONE
J.Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis, sesuai materi manajemen ekspedisi yaitu, dimulai dari pembentukan tim hingga persiapan pendakian.
1.Pembentukan Tim
Tim ini beranggotakan Lima orang berdasarkan kesepakatan setiap anggota dan seorang pendamping yang ditugaskan oleh Badan pengurus Harian ( BPH ) Himpinan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE Tahun 2012.
2.Persiapan Kegitan
a. Indoor
1) Administrasi
Persuratan dalam kegiatan Pengambilan Slayer Kuning ini meliputi, surat peminjaman alat, surat penyampaian kegiatan, surat keterangan jalan dan wawancara, surat ijin menginap serta administrasi lain yang dianggap perluh.
b. Outdoor
Kegiatan Pengambilan Slayer Kuning ini dilaksanakan sesuai dengan jalur yang telah ditunjuk oleh Badan Pengurus Harian (BPH) HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE Tahun 2012 yakni, pendakian gunung Bawakaraeng.
3. Pasca pelaksanaan kegiatan
a. penyetoran laporan kepada Badan Pengurus Harian (BPH) Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE untuk penentuan waktu maksimal batas penulisan laporan
b. Laporan yang telah dibuat dan disetujui oleh BPH, akan disahkan oleh beberapa unsur pimpinan dalam struktur organisasi Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE.
A.Sekilas Tentang Gunung Bawakaraeng
Gunung Bawakaraeng berasal dari bahasa Makassar Bawa dan Karaeng. Kata Bawa berarti mulut dan Karaeng yang berarti Tuhan atau Raja. Jadi Bawakaraeng berarti Mulut Tuhan. Setiap tahunnya, Gunung Bawakaraeng di penuhi oleh jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji. Haji Bawakaraeng adalah istilah bagi orang-orang yang mendaki gunung yang terletak di Kabupaten Gowa Sulsel ini, untuk melaksanakan ritual ibadah haji, yang mereka yakini sama nilainya dengan berhaji di tanah suci Mekkah. Haji Bawakaraeng adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan masih terus berlangsung hingga hari ini. Selain penduduk sekitar di Lembanna dan Kabupaten Gowa, ada pula jamaah haji yang berasal dari Makassar, Maros, Pangkep, Sengkang bahkan dari Propinsi Sulawesi Barat, Mamuju. Musim haji yang paling ramai bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, dan menjelang puasa.
Para jamaah haji di Bawakaraeng justru membawa sesajen yang di persiapkan sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan beras ketan (songkolo’), lontong, telur, buah-buahan, rokok, daging ayam bahkan daging kambing. Pelaksanaan ibadah ini sendiri bisa dipandang sebagai wujud pencampuradukan kepercayaan lama, ritual mistik dan ajaran Islam yang memang masih ditemukan di kelompok masyarakat tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Secara administratif gunung Bawakaraeng terletak di desa Lembanna kecamatan Tinggi Moncong Kab. Gowa Sulawesi Selatan. Secara goegrafis gunung ini terletak 119056’40” BT dan 05019’01” LS.
Hutan di gunung ini didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak di temui di antaranya pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, rotan dan lumut kerak. Adapun fauna yang banyak ditemui adalah burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang, nyamuk. Dalam mendaki Puncak Gunung Bawakaraeng kita dapat menggunakan jalur Lembanna, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa atau assoso, Kecamatan Manipi, Kabupaten Sinjai.
A.Profil Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan indoor bertempat di Basecamp Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE. Adapun lokasi kegiatan outdoor bertempat di Dusun tasoso, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kabupaten Sinjai, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kaupaten Gowa dan Dusun Tassoso yang terletak di Kabupaten Sinjai.
Penduduk yang bermukim di daerah ini mayoritas beragama Islam, bersuku Konjo, berbahasa Konjo, dan interaksi masyarakat yang satu dengan yang lainnya sangatlah kental. Adapun segi penghasilan mereka mayoritas bekerja di pertanian dan perkebunan khususnya sayur-sayuran.
B.Objek Penelitian
Objek penelitian kami, terkhusus pada Dusun tasoso Kabupaten sinjai, gunung Lompobattang yang terletak di Kabupaten Gowa, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kabupaten Gowa dan Dusun Tassoso yang terletak di Kabupaten Sinjai, baik dari letak geografis, sosiologi penduduk, flora, fauna dan keadaan medan.
C.Instrument Penelitian
Instrument adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data yang sesuai dengan obyek penelitian. Oleh karena itu, instrument dalam penelitian meliputi seluruh sarana yang digunakan dalam mengumpulkan data-data yang sempat diteliti, yaitu GPS (Global Position Sistem), kompas, peta topografi, busur, mistar, kurfameter, kamera, daftar sosiologi, daftar pencapaian lokasi, daftar kordinat geografis medan, daftar flora dan fauna.
Menurut Moleong bahwa dalam penelitian kualitatif pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada peneliti. Mengingat penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka yang menjadi instrument utama adalah peneliti. Hal ini sejalan dengan kriteria penelitian kualitatif yang menganggap bahwa seorang peneliti sekaligus sebagai instrument penelitian. Dengan demikian, pemecahan masalah dan intensitas penelitian sangat ditentukan oleh peneliti sebagai instrument utama. Artinya bahwa kemampuan personal peneliti dalam mengumpulkan data dan menganalisis data, sangat menentukan hasil penelitian.
D.Metode Pengumpulan Data
Mengacu pada kategori penelitian ini sebagai penelitian kualitatif, maka data-data yang diperlukan adalah data kualitatif yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari nara sumber atau informan melalui wawancara dan hasil studi dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari buku-buku pendukung maupun situs internet yang mempunyai relevansi dengan tema kajian yang dibahas baik yang bersifat kasuistik maupun yang bersifat universal.
Dalam menemukan data yang akurat terhadap masalah yang dikemukakan, maka metode yang ditempuh adalah field research (penelitian lapangan) yakni turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data-data konkrit mengenai masalah yang akan dibahas dengan menggunakan metode:
1.Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan dilakukan dengan mengkaji berbagai buku sumber atau literatur yang sehubungan dengan permasalahan, objek serta variabel-variabel penelitian. Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan dan merangkai teori-teori sebagai landasan pembahasan dan pengkajian masalah.
2.Metode Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data atau informasi tentang objek dan variabel-variabel penelitian, yang berupa data sekunder. Data ini diperoleh dari lokasi yang dilalui selama kegiatan.
3.Metode Pengamatan
Metode pengamatan dilakukan dengan mengamati langsung objek yang diteliti di lapangan secara cermat dan mencatatnya dengan baik secara terperinci. Hal ini dilakukan terutama dalam hal mendata klasifikasi keadaan lokasi kegiatan.
E. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode analisis deduktif
Metode analisis deduktif, yaitu teknik berpikir yang berlandaskan pada hal-hal yang bersifat umum, kemudian diarahkan kepada hal-hal yang besifat khusus.
2. Metode analisis induktif
Metode analisis induktif yaitu suatu teknik berpikir yang didasarkan peneliti pada hal-hal yang bersifat khusus, kemudian diarahkan kepada hal-hal yang bersifat umum.
3. Metode analisis komparatif
Metode analisis komparatif ini adalah suatu teknik berpikir yang digunakan dengan cara memperbandingkan beberapa argumen atau data lalu kemudian mengambil argumen atau data yang dianggap kuat dan memiliki validitas sebagai hasil perbandingan.
Metode analilsis data ini digunakan antara lain adalah analisis kualitatif, yaitu mengambil data untuk kemudian diinterpretasi. Data yang dimaksud adalah data yang diperoleh melalui interview, observasi, maupun dokumentasi.
A. Klasifikasi Data Lokasi
Ada beberapa data yang sempat diamati pada lokasi yang dilalui dan akan diuraikan pada tabel di bawah ini. Adapun sumber data diperoleh di Desa Gunung Perak, Dusun tasosso Kab. Sinjai, Gunung Bawakaraeng dan Dusun Tassoso Kab. Sinjai.
1.Data flora
Data flora merupakan data tumbuh-tumbuhan yang sempat dilihat dan dapat dikenali selama perjalanan. Adapun klasifikasi tumbuhan atau flora yang dilihat dan dikenali, diantaranya:
a. Bryophyta yaitu tumbuhan lumut yang merupakan golongan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus, tumbuhan ini hidup ditempat yang lembap, basah, atau berair dan biasanya bersifat epifit atau menempel. Tumbuhan ini memiliki klorofil sehingga dapat berfotosintesis.
b. Pteridophyta yaitu tumbuhan paku yang merupakan kormofita, yaitu sudah memiliki akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Tumbuhan ini berkembang biak dengan spora, dapat hidup menempel pada tumbuhan lain (epifit), hidup di air (hidrofit), tempat di tempat lembap (higrofit), dan hidup pada sisa-sisa tumbuhan lain (saprofit).
c. Gymnospermae yaitu tumbuhan yang tidak memiliki bunga yang sesungguhnya. Alat perkembangbiakannya terdapat pada bagian yang berbentuk runjung atau strobilus. Biji terdapat pada strobilus dan tidak terbungkus oleh daun buah. Karena bijinya tampak dari luar, maka disebut tumbuhan biji terbuka.
J.Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis, sesuai materi manajemen ekspedisi yaitu, dimulai dari pembentukan tim hingga persiapan pendakian.
1.Pembentukan Tim
Tim ini beranggotakan Lima orang berdasarkan kesepakatan setiap anggota dan seorang pendamping yang ditugaskan oleh Badan pengurus Harian ( BPH ) Himpinan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE Tahun 2012.
2.Persiapan Kegitan
a. Indoor
1) Administrasi
Persuratan dalam kegiatan Pengambilan Slayer Kuning ini meliputi, surat peminjaman alat, surat penyampaian kegiatan, surat keterangan jalan dan wawancara, surat ijin menginap serta administrasi lain yang dianggap perluh.
b. Outdoor
Kegiatan Pengambilan Slayer Kuning ini dilaksanakan sesuai dengan jalur yang telah ditunjuk oleh Badan Pengurus Harian (BPH) HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE Tahun 2012 yakni, pendakian gunung Bawakaraeng.
3. Pasca pelaksanaan kegiatan
a. penyetoran laporan kepada Badan Pengurus Harian (BPH) Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE untuk penentuan waktu maksimal batas penulisan laporan
b. Laporan yang telah dibuat dan disetujui oleh BPH, akan disahkan oleh beberapa unsur pimpinan dalam struktur organisasi Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE.
A.Sekilas Tentang Gunung Bawakaraeng
Gunung Bawakaraeng berasal dari bahasa Makassar Bawa dan Karaeng. Kata Bawa berarti mulut dan Karaeng yang berarti Tuhan atau Raja. Jadi Bawakaraeng berarti Mulut Tuhan. Setiap tahunnya, Gunung Bawakaraeng di penuhi oleh jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji. Haji Bawakaraeng adalah istilah bagi orang-orang yang mendaki gunung yang terletak di Kabupaten Gowa Sulsel ini, untuk melaksanakan ritual ibadah haji, yang mereka yakini sama nilainya dengan berhaji di tanah suci Mekkah. Haji Bawakaraeng adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan masih terus berlangsung hingga hari ini. Selain penduduk sekitar di Lembanna dan Kabupaten Gowa, ada pula jamaah haji yang berasal dari Makassar, Maros, Pangkep, Sengkang bahkan dari Propinsi Sulawesi Barat, Mamuju. Musim haji yang paling ramai bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, dan menjelang puasa.
Para jamaah haji di Bawakaraeng justru membawa sesajen yang di persiapkan sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan beras ketan (songkolo’), lontong, telur, buah-buahan, rokok, daging ayam bahkan daging kambing. Pelaksanaan ibadah ini sendiri bisa dipandang sebagai wujud pencampuradukan kepercayaan lama, ritual mistik dan ajaran Islam yang memang masih ditemukan di kelompok masyarakat tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Secara administratif gunung Bawakaraeng terletak di desa Lembanna kecamatan Tinggi Moncong Kab. Gowa Sulawesi Selatan. Secara goegrafis gunung ini terletak 119056’40” BT dan 05019’01” LS.
Hutan di gunung ini didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak di temui di antaranya pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, rotan dan lumut kerak. Adapun fauna yang banyak ditemui adalah burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang, nyamuk. Dalam mendaki Puncak Gunung Bawakaraeng kita dapat menggunakan jalur Lembanna, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa atau assoso, Kecamatan Manipi, Kabupaten Sinjai.
A.Profil Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan indoor bertempat di Basecamp Himpunan Mahasiswa Peduli Alam Dan Masyarakat ( HIMALAYA ) STAI AL-GAZALI BONE. Adapun lokasi kegiatan outdoor bertempat di Dusun tasoso, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kabupaten Sinjai, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kaupaten Gowa dan Dusun Tassoso yang terletak di Kabupaten Sinjai.
Penduduk yang bermukim di daerah ini mayoritas beragama Islam, bersuku Konjo, berbahasa Konjo, dan interaksi masyarakat yang satu dengan yang lainnya sangatlah kental. Adapun segi penghasilan mereka mayoritas bekerja di pertanian dan perkebunan khususnya sayur-sayuran.
B.Objek Penelitian
Objek penelitian kami, terkhusus pada Dusun tasoso Kabupaten sinjai, gunung Lompobattang yang terletak di Kabupaten Gowa, gunung Bawakaraeng yang terletak di Kabupaten Gowa dan Dusun Tassoso yang terletak di Kabupaten Sinjai, baik dari letak geografis, sosiologi penduduk, flora, fauna dan keadaan medan.
C.Instrument Penelitian
Instrument adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data yang sesuai dengan obyek penelitian. Oleh karena itu, instrument dalam penelitian meliputi seluruh sarana yang digunakan dalam mengumpulkan data-data yang sempat diteliti, yaitu GPS (Global Position Sistem), kompas, peta topografi, busur, mistar, kurfameter, kamera, daftar sosiologi, daftar pencapaian lokasi, daftar kordinat geografis medan, daftar flora dan fauna.
Menurut Moleong bahwa dalam penelitian kualitatif pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada peneliti. Mengingat penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka yang menjadi instrument utama adalah peneliti. Hal ini sejalan dengan kriteria penelitian kualitatif yang menganggap bahwa seorang peneliti sekaligus sebagai instrument penelitian. Dengan demikian, pemecahan masalah dan intensitas penelitian sangat ditentukan oleh peneliti sebagai instrument utama. Artinya bahwa kemampuan personal peneliti dalam mengumpulkan data dan menganalisis data, sangat menentukan hasil penelitian.
D.Metode Pengumpulan Data
Mengacu pada kategori penelitian ini sebagai penelitian kualitatif, maka data-data yang diperlukan adalah data kualitatif yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari nara sumber atau informan melalui wawancara dan hasil studi dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari buku-buku pendukung maupun situs internet yang mempunyai relevansi dengan tema kajian yang dibahas baik yang bersifat kasuistik maupun yang bersifat universal.
Dalam menemukan data yang akurat terhadap masalah yang dikemukakan, maka metode yang ditempuh adalah field research (penelitian lapangan) yakni turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data-data konkrit mengenai masalah yang akan dibahas dengan menggunakan metode:
1.Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan dilakukan dengan mengkaji berbagai buku sumber atau literatur yang sehubungan dengan permasalahan, objek serta variabel-variabel penelitian. Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan dan merangkai teori-teori sebagai landasan pembahasan dan pengkajian masalah.
2.Metode Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data atau informasi tentang objek dan variabel-variabel penelitian, yang berupa data sekunder. Data ini diperoleh dari lokasi yang dilalui selama kegiatan.
3.Metode Pengamatan
Metode pengamatan dilakukan dengan mengamati langsung objek yang diteliti di lapangan secara cermat dan mencatatnya dengan baik secara terperinci. Hal ini dilakukan terutama dalam hal mendata klasifikasi keadaan lokasi kegiatan.
E. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode analisis deduktif
Metode analisis deduktif, yaitu teknik berpikir yang berlandaskan pada hal-hal yang bersifat umum, kemudian diarahkan kepada hal-hal yang besifat khusus.
2. Metode analisis induktif
Metode analisis induktif yaitu suatu teknik berpikir yang didasarkan peneliti pada hal-hal yang bersifat khusus, kemudian diarahkan kepada hal-hal yang bersifat umum.
3. Metode analisis komparatif
Metode analisis komparatif ini adalah suatu teknik berpikir yang digunakan dengan cara memperbandingkan beberapa argumen atau data lalu kemudian mengambil argumen atau data yang dianggap kuat dan memiliki validitas sebagai hasil perbandingan.
Metode analilsis data ini digunakan antara lain adalah analisis kualitatif, yaitu mengambil data untuk kemudian diinterpretasi. Data yang dimaksud adalah data yang diperoleh melalui interview, observasi, maupun dokumentasi.
A. Klasifikasi Data Lokasi
Ada beberapa data yang sempat diamati pada lokasi yang dilalui dan akan diuraikan pada tabel di bawah ini. Adapun sumber data diperoleh di Desa Gunung Perak, Dusun tasosso Kab. Sinjai, Gunung Bawakaraeng dan Dusun Tassoso Kab. Sinjai.
1.Data flora
Data flora merupakan data tumbuh-tumbuhan yang sempat dilihat dan dapat dikenali selama perjalanan. Adapun klasifikasi tumbuhan atau flora yang dilihat dan dikenali, diantaranya:
a. Bryophyta yaitu tumbuhan lumut yang merupakan golongan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertalus, tumbuhan ini hidup ditempat yang lembap, basah, atau berair dan biasanya bersifat epifit atau menempel. Tumbuhan ini memiliki klorofil sehingga dapat berfotosintesis.
b. Pteridophyta yaitu tumbuhan paku yang merupakan kormofita, yaitu sudah memiliki akar, batang, dan daun yang sebenarnya. Tumbuhan ini berkembang biak dengan spora, dapat hidup menempel pada tumbuhan lain (epifit), hidup di air (hidrofit), tempat di tempat lembap (higrofit), dan hidup pada sisa-sisa tumbuhan lain (saprofit).
c. Gymnospermae yaitu tumbuhan yang tidak memiliki bunga yang sesungguhnya. Alat perkembangbiakannya terdapat pada bagian yang berbentuk runjung atau strobilus. Biji terdapat pada strobilus dan tidak terbungkus oleh daun buah. Karena bijinya tampak dari luar, maka disebut tumbuhan biji terbuka.
2.Data fauna
Data fauna merupakan data hewan yang ditemukan selama perjalanan dan dapat dikenali. Adapun klasifikasi hewan atau fauna yang dilihat dan dikenali, diantaranya:
a. Mamalia merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat, sisik bermodifikasi menjadi rambut, pada kulitnya terdapat kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan kelenjar bau, bentuk kaki disesuaikan dengan fungsinya.
b. Aves merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat walaupun banyak yang mencari makanannya di air, sisiknya mengalami modifikasi menjadi bulu yang membungkus tubuhnya, alat gerak bebasnya adalah sepasang sayap.
c. Reptilia merupakan klasifikasi hewan yang beradaptasi dengan kehidupan di darat, kulitnya kering, bersisik dari zat tanduk dan pada umumnya tidak mempunyai kelenjar lendir dan mempunyai dua pasang tungkai yang berkuku.
d. Diptera merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat, serangga yang bersayap dua.
e. Hirudinea merupakan cacing pengisap darah atau golongan lintah. Cacing ini hidupnya di air dan di darat. Tubuhnya pipih beruas-ruas, tidak memiliki parapodia dan tidak berambut. Memiliki dua alat pengisap darah, satu di bagian anterior, dan satu lagi di bagian posterior tubuhnya. Cacing ini menghasilkan zat anti koagulan atau anti pembekuan darah dan bersifat hermafrodit.
Data fauna merupakan data hewan yang ditemukan selama perjalanan dan dapat dikenali. Adapun klasifikasi hewan atau fauna yang dilihat dan dikenali, diantaranya:
a. Mamalia merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat, sisik bermodifikasi menjadi rambut, pada kulitnya terdapat kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan kelenjar bau, bentuk kaki disesuaikan dengan fungsinya.
b. Aves merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat walaupun banyak yang mencari makanannya di air, sisiknya mengalami modifikasi menjadi bulu yang membungkus tubuhnya, alat gerak bebasnya adalah sepasang sayap.
c. Reptilia merupakan klasifikasi hewan yang beradaptasi dengan kehidupan di darat, kulitnya kering, bersisik dari zat tanduk dan pada umumnya tidak mempunyai kelenjar lendir dan mempunyai dua pasang tungkai yang berkuku.
d. Diptera merupakan klasifikasi hewan yang hidup di darat, serangga yang bersayap dua.
e. Hirudinea merupakan cacing pengisap darah atau golongan lintah. Cacing ini hidupnya di air dan di darat. Tubuhnya pipih beruas-ruas, tidak memiliki parapodia dan tidak berambut. Memiliki dua alat pengisap darah, satu di bagian anterior, dan satu lagi di bagian posterior tubuhnya. Cacing ini menghasilkan zat anti koagulan atau anti pembekuan darah dan bersifat hermafrodit.
3.Data
kondisi medan
Data kondisi medan selama perjalanan diperoleh dengan melakukan orientering atau orientasi medandengan menggunakan GPS dan observation atau pengamatan langsung di medan, segala yang berhubungan dengan kondisi medan akan diuraikan
4.Data sosiologi
Data sosiologi diperoleh berdasarkan pada beberapa lokasi yang dilalui selama perjalanan, dan berhubungan dengan kondisi atau gambaran lokasi yang dilalui yaitu:
Dusun Tassoso yang secara administratif terletak di Kabupaten Sinjai, sosiologi penduduknya tidak jauh berbeda dengan penduduk yang bermukim di dusun Parambintolo, mayoritas penduduknya bersuku Konjo, beragama Islam, dan berbahasa Konjo. Mata pencaharian penduduknya pun mayoritas pada pertanian dan perkebunan sayuran. Adapun sarana umumnya adalah mesjid, SD, SMP, Pustu dan listrik.
B. Skenario Kegiatan
Jum’at tanggal 30 November 2012 pada pukul 13.55 WITA pelepasan peserta pengambilan slayer kuning akan segera di mulai dan semua peserta pengambilan slayer kuning, dewan legislatif,Badan Pengurus Harian ( BPH ) dan perwakilan angkatan VI HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE berkumpul di KAMPUS STAI AL-GAZALI BONE ( warnet ) untuk melaksanakan pelepasan peserta slayer kuning oleh saudara Awaloedin, S.pd. Pelaksanaan pelepasan peserta pengambilan slayer kuning diawali dengan :
1. Ucapan salam
2. Arahan-arahan oleh saudara Awaloedin, s.pd. sekaligus melepaskan peserta pengambilan slayer kuning.
3. Berdoa
Kemudian setelah selesai pelepasan peserta pengambilan slayer kuning, dewan legislatif, BPH, dan perwakilan angkatan VI HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE, STAR untuk menuju lokasi tepat pada pukul 14.00 WITA. Setelah itu kami singgah di pertamina ( jalan biru ) isi bensin sekaligus beli minuman tepat pada pukul 14.23 WITA. Beberapa menit ( 1.26 menit ) kemudian kami melanjutkan perjalanan dan singgah menunggu salah satu pendamping yaitu: k’ichol di daerah Cina, tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan tepat pada pukul 15.10 WITA. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi tepatnya dusun tasosso kabupaten sinjai gunung bawakaraeng, Kami pun berangkat setelah melewati 3 (tiga) kecematan yaitu (Mare, Salomekko, dan Kajuara) sampailah kami di satu kabupaten yaitu SINJAI, dan di Sinjai terjadi razia SIM dan STNK tepat pada pukul 15.59 WITA. Kami pun singgah dan datanglah salah satu aparat (Polisi), menyakan sim dan stnk dan tak lama kemudian kami di suruh jalan kembali, kami pun berangkat menuju daerah sinjai barat tepatnya pada desa gunung perak dusun tasosso kec. Sinjai barat, dan lama kemudian kami singgah lagi di pertamina di derah sinjai untuk isi bensin, setelah selesai mengisi bensin motor, kami singgah lagi depan pertamina N aku beli salah satu minum ciri has di sinjai yaitu: Irex, sambil foto-foto untuk dokumentasi bertepatan pada pukul 16.15. Kemudian kami lanjutkan perjalanan dengan melewati batas desa gantarang sinjai tengah pada pukul 16:50. Tepat pukul 17:50 kami melewati batas desa pasanti sinjai barat. Dan dingin pun mulai teras dan setelah melewati salah satu dusun yaitu dusun Tada pukul 17:53, rasa dingin pun sudah tidak bisa tertahankan lagi dan aq singgah sebentar minta kaos tangan yang aku bonceng yaitu saudari Erniati, dan tak lama kemudian kami memasuki daerah gunung perak. Di mana didalam perjalanan ini salah satu pendamping, singgah isi bensin karena dia mengira tempat yang mau kita datangi masih jauh, setelah itu kami melanjutkan dan Tepat pukul 18:06 kami sampai di Dusun Tassosso Desa Gunung Perak Kec.Sinjai Barat di depan rumah kepala dusun. Dan tak lama kemudian salah satu pendamping, (K’Jusmar) menanyakan keberadaan bapak kepala dusun, ternyata kelapa dusun’nya lagi tidak ada dirumahnya, dia telah bepergian. Dan setelah itu kami pun duduk sejenak dan berphoto-photo lagi untuk dokumentasi, dan tak lama kemudian kami menuju di rumah saudara Agus (Capung). Aku pun masuk di dalam rumah aku tidak menyangka kalau di dalam rumah itu sangat dingin kaya rumah yang penuh dengan AC, tidak lama kemudian aku keluar kembali duduk karena rasa dingin yang tidak tertahankan, setelah itu aku masuk kembali dan duduk di kursi berdekatan dengan saudara hazwan dan pendamping Awaloedin S.Pd. kemudian saudara perempuannya memasak, aku beserta teman-teman serta pendamping dan salah satu tuan rumah yaitu Agus saling bercanda, tak lama kemudian datang teman saudara Agus. Kami pun cerita-cerita dengan dia, dan tak lama kemudian kami di suruh masuk untuk makan sementara makan kedua teman Agus pamit untuk menuju kota bone karena penjemputnya di luar rumah sedang menunggu, setelah makan kami lansung menuju tempat duduk dan bercerita kembali mengenai persiapan ke esokan harinya. Setelah itu aku masuk kembali dan mengambil selimut karena rasa dingin sudah tidak bisa tertahankan lagi. Kemudian duduk depan TV nonton OVJ bersama salah satu pendamping yaitu : K’jusmar dan dari angkatan VI saudara saddam tak lama kemudian kami pun tertidur karena rasa dingin terasa getir aku terbangun untuk perbaiki selimut, lalu tidur kembali.
Sabtu tanggal 01 Desember 2012, tepatnya pukul 07.25 aku bangun ternyata teman-teman sudah pada bangun tinggal aku sendirian di tempat tidur aku pun lansung tinggalkan tempat tidur lalu menuju di WC untuk cuci muka, setelah itu aku keluar ternyata teman-teman sudah siapkan air hangat, teh sama kopi aku pun duduk minum kopi bersama teman-teman dan pendamping, tak lama kemudian kami dipanggil untuk sarapan pagi, setelah sarapan 06.45-08.35. kami siap-siap tuk berangkat di puncak dan salah satu dari Dewan Legislatif memberikan arahan-arahan dan membaca doa sebelum berangkat demi keselamatan kami semua.
tepatnya pada pukul 09.04. Dan kami STAR meninggalkan perkampungan menuju puncak gunung bawakaraeng, dalam perjalanan menuju pos I itu sempat di bagi menjadi 2 tim tapi di gabung kembali karena ada diantara teman2 kami ada yang mengalami kecapean karena tidak latihan fisik, sehingga aku bersama salah satu pendamping menunggu teman yang lagi kecapean ini. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos ke II, POS l tepat pada pukul 09.53. 09.53-10.08 ( 55 menit ) kami sampai di
POS ll dan kami istrahat sejenak sambil foto-foto sebagai dokumentasi. Tepat pukul 10.16 kami melanjutkan perjalanan untuk menuju di pos ke II pisik masih ok” saja dengan membawa beban sekitar 10 kg, kami pun sampai di pos III
POS III setelah beberapa menit ( 5 menit ) kami sampai di POS III tepat pada pukul 10.21, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju POS IV dan kami sampai di POS IV tepat pada pukul 10.25. kami pun melanjutkan perjalanan menuju POS V akan tetapi jarak antara POS IV ke POS V agak lumayan jauh dan pendakian jadi kami singgah selama 3 x tepat pada pukul 10.35, 10.40 dan 11.00, akhirnya pun kami sampai di POS V (pos angin-angin ) tepat pada pukul 11.02.kemudian kami istirahat sejenak ( selama 19 menit) sambil foto-foto dan sebagian saudara menghubungi teman kuliah karna ada tugas kuliah yang harus di kumpul akan tetapi jaringan tidak terlalu bagus jadi kami melanjutkan perjalanan menuju POS VI tepat pada pukul 11.21.setelah beberapa menit (38 menit ) kemudian kami sampai di POS VI tepat pada pukul 11.59 dan di POS VI banyak lintah darat. Dan di pos enam cuaca pun tidak bersahabat karena terjadi gerimis dan kabut, tapi itu tidak masalah karena semangat untuk mencapai tujuan tidak pernah menurun walaupun cuaca tidak mendukung kami tetap melanjutkan perjalanan menuju pos ke VII kami menempu jalan sekitar 40 menit. kami pun sampai di pos VII, lalu istirahat sejenak dan photo-photo untuk dokumentasi kami istirahat sekitar 11 menit lalu melanjutkan perjalanan menuju pos VIII tepat pukul 12.43, kami sampai di pos VIII, kami istirahat sejenak kemudian bagi job ada yang pasang tenda, ada yang memasak, aku bersama Hazwan, Saddam N, dan Saudara Agus Pergi ambil air untuk dipakai memasak, setelah dari ambil saudara arty pun memasak air untuk menyiram kopi, setelah selesai bikin kopi. Arty pun lanjut memasak nasi dan tak lama kemudian hujan turun kami pun masuk dalam tendah dan bercerita-cerita apakah mau dilanjutkan perjalanan atau ke esokan harinya baru di lanjutkan, dengan semangat serta dorongan senior dan melihat cuaca sudah mendukung. setelah makan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos IX, tapi sayang’nya ditengah perjalanan baru di ingat bahwa bendera ketinggalan di pos VIII, mau tidak mau harus ada yang turun kembali ke pos VIII untuk mengambil bendera tersebut untuk upacara nantinya di puncak gunung bawakaraeng. untung K’Jusmar dan saudara Hazwan berbaik hati untuk turun kembali untuk mengambil bendera tersebut, jujur aku merasa tidak enak karena ini adalah tugas saya sebagai peserta tapi karena kondisi tidak memungkinkan aku tidak turun, karena kalau aku turun yang aku takutkan tidak bisa naik kembali. K’jusmar sama Hazwan pun berlari turun untuk mengambil bendera tersebut. lalu aku melanjutkan perjalanan menyusul K’Ichol, K’wawan N suarty di Pos IX, sedangkan Saudara Saddam sama Kartini menunggu K’jumar yang lagi turun mengambil bendera. dan tak lama kemudian kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos X, di tengah perjalanan kami photo-photo karena melihat pemandangan yang begitu indah, sambil menunggu K’jusmar dan hazwan. kami sampai di pos X tepat pada pukul 17.26. dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos XI (PUNCAK), sebelum mencapai puncak di pos XI kami singgah sebentar untuk mengirimkan doa untuk saudara kita yang beberapa tahun lalu meninggal di tempat itu akibat tertimpah tanah lonsor. setelah beberapa menit kemudian kami pun sampai di PUNCAK GUNUNG BAWAKARAENG (Titik tranggulasi) tepat pada pukul 17.34 kwemudian kami istirahat sejenak lalu photo-photo kembali kemudian di lanjutkan dengan upacara pelaksanaan pengambilan Slayer kuning di awali dengan :
1. pembacaan protocol oleh saudara Arty (Keto)
2. Pembina Upacara oleh saudara Awaloedin S.Pd.I
3. Pemimpin upacara saya sendiri (Surisman)
4. Pengibaran bendera oleh saudara hazwan
5. Pembacaan Kode etik oleh saudara risnawati C.
6. Pemnacaan do’a oleh saudara Saddam N
Data sosiologi diperoleh berdasarkan pada beberapa lokasi yang dilalui selama perjalanan, dan berhubungan dengan kondisi atau gambaran lokasi yang dilalui yaitu:
Dusun Tassoso yang secara administratif terletak di Kabupaten Sinjai, sosiologi penduduknya tidak jauh berbeda dengan penduduk yang bermukim di dusun Parambintolo, mayoritas penduduknya bersuku Konjo, beragama Islam, dan berbahasa Konjo. Mata pencaharian penduduknya pun mayoritas pada pertanian dan perkebunan sayuran. Adapun sarana umumnya adalah mesjid, SD, SMP, Pustu dan listrik.
B. Skenario Kegiatan
Jum’at tanggal 30 November 2012 pada pukul 13.55 WITA pelepasan peserta pengambilan slayer kuning akan segera di mulai dan semua peserta pengambilan slayer kuning, dewan legislatif,Badan Pengurus Harian ( BPH ) dan perwakilan angkatan VI HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE berkumpul di KAMPUS STAI AL-GAZALI BONE ( warnet ) untuk melaksanakan pelepasan peserta slayer kuning oleh saudara Awaloedin, S.pd. Pelaksanaan pelepasan peserta pengambilan slayer kuning diawali dengan :
1. Ucapan salam
2. Arahan-arahan oleh saudara Awaloedin, s.pd. sekaligus melepaskan peserta pengambilan slayer kuning.
3. Berdoa
Kemudian setelah selesai pelepasan peserta pengambilan slayer kuning, dewan legislatif, BPH, dan perwakilan angkatan VI HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE, STAR untuk menuju lokasi tepat pada pukul 14.00 WITA. Setelah itu kami singgah di pertamina ( jalan biru ) isi bensin sekaligus beli minuman tepat pada pukul 14.23 WITA. Beberapa menit ( 1.26 menit ) kemudian kami melanjutkan perjalanan dan singgah menunggu salah satu pendamping yaitu: k’ichol di daerah Cina, tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan tepat pada pukul 15.10 WITA. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi tepatnya dusun tasosso kabupaten sinjai gunung bawakaraeng, Kami pun berangkat setelah melewati 3 (tiga) kecematan yaitu (Mare, Salomekko, dan Kajuara) sampailah kami di satu kabupaten yaitu SINJAI, dan di Sinjai terjadi razia SIM dan STNK tepat pada pukul 15.59 WITA. Kami pun singgah dan datanglah salah satu aparat (Polisi), menyakan sim dan stnk dan tak lama kemudian kami di suruh jalan kembali, kami pun berangkat menuju daerah sinjai barat tepatnya pada desa gunung perak dusun tasosso kec. Sinjai barat, dan lama kemudian kami singgah lagi di pertamina di derah sinjai untuk isi bensin, setelah selesai mengisi bensin motor, kami singgah lagi depan pertamina N aku beli salah satu minum ciri has di sinjai yaitu: Irex, sambil foto-foto untuk dokumentasi bertepatan pada pukul 16.15. Kemudian kami lanjutkan perjalanan dengan melewati batas desa gantarang sinjai tengah pada pukul 16:50. Tepat pukul 17:50 kami melewati batas desa pasanti sinjai barat. Dan dingin pun mulai teras dan setelah melewati salah satu dusun yaitu dusun Tada pukul 17:53, rasa dingin pun sudah tidak bisa tertahankan lagi dan aq singgah sebentar minta kaos tangan yang aku bonceng yaitu saudari Erniati, dan tak lama kemudian kami memasuki daerah gunung perak. Di mana didalam perjalanan ini salah satu pendamping, singgah isi bensin karena dia mengira tempat yang mau kita datangi masih jauh, setelah itu kami melanjutkan dan Tepat pukul 18:06 kami sampai di Dusun Tassosso Desa Gunung Perak Kec.Sinjai Barat di depan rumah kepala dusun. Dan tak lama kemudian salah satu pendamping, (K’Jusmar) menanyakan keberadaan bapak kepala dusun, ternyata kelapa dusun’nya lagi tidak ada dirumahnya, dia telah bepergian. Dan setelah itu kami pun duduk sejenak dan berphoto-photo lagi untuk dokumentasi, dan tak lama kemudian kami menuju di rumah saudara Agus (Capung). Aku pun masuk di dalam rumah aku tidak menyangka kalau di dalam rumah itu sangat dingin kaya rumah yang penuh dengan AC, tidak lama kemudian aku keluar kembali duduk karena rasa dingin yang tidak tertahankan, setelah itu aku masuk kembali dan duduk di kursi berdekatan dengan saudara hazwan dan pendamping Awaloedin S.Pd. kemudian saudara perempuannya memasak, aku beserta teman-teman serta pendamping dan salah satu tuan rumah yaitu Agus saling bercanda, tak lama kemudian datang teman saudara Agus. Kami pun cerita-cerita dengan dia, dan tak lama kemudian kami di suruh masuk untuk makan sementara makan kedua teman Agus pamit untuk menuju kota bone karena penjemputnya di luar rumah sedang menunggu, setelah makan kami lansung menuju tempat duduk dan bercerita kembali mengenai persiapan ke esokan harinya. Setelah itu aku masuk kembali dan mengambil selimut karena rasa dingin sudah tidak bisa tertahankan lagi. Kemudian duduk depan TV nonton OVJ bersama salah satu pendamping yaitu : K’jusmar dan dari angkatan VI saudara saddam tak lama kemudian kami pun tertidur karena rasa dingin terasa getir aku terbangun untuk perbaiki selimut, lalu tidur kembali.
Sabtu tanggal 01 Desember 2012, tepatnya pukul 07.25 aku bangun ternyata teman-teman sudah pada bangun tinggal aku sendirian di tempat tidur aku pun lansung tinggalkan tempat tidur lalu menuju di WC untuk cuci muka, setelah itu aku keluar ternyata teman-teman sudah siapkan air hangat, teh sama kopi aku pun duduk minum kopi bersama teman-teman dan pendamping, tak lama kemudian kami dipanggil untuk sarapan pagi, setelah sarapan 06.45-08.35. kami siap-siap tuk berangkat di puncak dan salah satu dari Dewan Legislatif memberikan arahan-arahan dan membaca doa sebelum berangkat demi keselamatan kami semua.
tepatnya pada pukul 09.04. Dan kami STAR meninggalkan perkampungan menuju puncak gunung bawakaraeng, dalam perjalanan menuju pos I itu sempat di bagi menjadi 2 tim tapi di gabung kembali karena ada diantara teman2 kami ada yang mengalami kecapean karena tidak latihan fisik, sehingga aku bersama salah satu pendamping menunggu teman yang lagi kecapean ini. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos ke II, POS l tepat pada pukul 09.53. 09.53-10.08 ( 55 menit ) kami sampai di
POS ll dan kami istrahat sejenak sambil foto-foto sebagai dokumentasi. Tepat pukul 10.16 kami melanjutkan perjalanan untuk menuju di pos ke II pisik masih ok” saja dengan membawa beban sekitar 10 kg, kami pun sampai di pos III
POS III setelah beberapa menit ( 5 menit ) kami sampai di POS III tepat pada pukul 10.21, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju POS IV dan kami sampai di POS IV tepat pada pukul 10.25. kami pun melanjutkan perjalanan menuju POS V akan tetapi jarak antara POS IV ke POS V agak lumayan jauh dan pendakian jadi kami singgah selama 3 x tepat pada pukul 10.35, 10.40 dan 11.00, akhirnya pun kami sampai di POS V (pos angin-angin ) tepat pada pukul 11.02.kemudian kami istirahat sejenak ( selama 19 menit) sambil foto-foto dan sebagian saudara menghubungi teman kuliah karna ada tugas kuliah yang harus di kumpul akan tetapi jaringan tidak terlalu bagus jadi kami melanjutkan perjalanan menuju POS VI tepat pada pukul 11.21.setelah beberapa menit (38 menit ) kemudian kami sampai di POS VI tepat pada pukul 11.59 dan di POS VI banyak lintah darat. Dan di pos enam cuaca pun tidak bersahabat karena terjadi gerimis dan kabut, tapi itu tidak masalah karena semangat untuk mencapai tujuan tidak pernah menurun walaupun cuaca tidak mendukung kami tetap melanjutkan perjalanan menuju pos ke VII kami menempu jalan sekitar 40 menit. kami pun sampai di pos VII, lalu istirahat sejenak dan photo-photo untuk dokumentasi kami istirahat sekitar 11 menit lalu melanjutkan perjalanan menuju pos VIII tepat pukul 12.43, kami sampai di pos VIII, kami istirahat sejenak kemudian bagi job ada yang pasang tenda, ada yang memasak, aku bersama Hazwan, Saddam N, dan Saudara Agus Pergi ambil air untuk dipakai memasak, setelah dari ambil saudara arty pun memasak air untuk menyiram kopi, setelah selesai bikin kopi. Arty pun lanjut memasak nasi dan tak lama kemudian hujan turun kami pun masuk dalam tendah dan bercerita-cerita apakah mau dilanjutkan perjalanan atau ke esokan harinya baru di lanjutkan, dengan semangat serta dorongan senior dan melihat cuaca sudah mendukung. setelah makan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos IX, tapi sayang’nya ditengah perjalanan baru di ingat bahwa bendera ketinggalan di pos VIII, mau tidak mau harus ada yang turun kembali ke pos VIII untuk mengambil bendera tersebut untuk upacara nantinya di puncak gunung bawakaraeng. untung K’Jusmar dan saudara Hazwan berbaik hati untuk turun kembali untuk mengambil bendera tersebut, jujur aku merasa tidak enak karena ini adalah tugas saya sebagai peserta tapi karena kondisi tidak memungkinkan aku tidak turun, karena kalau aku turun yang aku takutkan tidak bisa naik kembali. K’jusmar sama Hazwan pun berlari turun untuk mengambil bendera tersebut. lalu aku melanjutkan perjalanan menyusul K’Ichol, K’wawan N suarty di Pos IX, sedangkan Saudara Saddam sama Kartini menunggu K’jumar yang lagi turun mengambil bendera. dan tak lama kemudian kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos X, di tengah perjalanan kami photo-photo karena melihat pemandangan yang begitu indah, sambil menunggu K’jusmar dan hazwan. kami sampai di pos X tepat pada pukul 17.26. dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos XI (PUNCAK), sebelum mencapai puncak di pos XI kami singgah sebentar untuk mengirimkan doa untuk saudara kita yang beberapa tahun lalu meninggal di tempat itu akibat tertimpah tanah lonsor. setelah beberapa menit kemudian kami pun sampai di PUNCAK GUNUNG BAWAKARAENG (Titik tranggulasi) tepat pada pukul 17.34 kwemudian kami istirahat sejenak lalu photo-photo kembali kemudian di lanjutkan dengan upacara pelaksanaan pengambilan Slayer kuning di awali dengan :
1. pembacaan protocol oleh saudara Arty (Keto)
2. Pembina Upacara oleh saudara Awaloedin S.Pd.I
3. Pemimpin upacara saya sendiri (Surisman)
4. Pengibaran bendera oleh saudara hazwan
5. Pembacaan Kode etik oleh saudara risnawati C.
6. Pemnacaan do’a oleh saudara Saddam N
A. Kesimpulan
Mengacu pada rumusan masalah dan uraian yang telah dikemukakan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Dari beberapa uraian hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa klasifikasi data pada lokasi yang telah dilalui oleh peserta pengambilan slayer kuning Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYAH STAI AL-GAZALI BONE adalah:
a. Keanekaragaman flora dan fauna di daerah yang dilalui menunjukkan salah satu ciri khas yang ada di gunung Bawakaraeng dan sekitarnya.
b. Letak koordinat geografis dan ketinggian dari beberapa lokasi yang di lalui selama kegiatan yaitu:
1) Gunung Bawakaraeng : 119 ̊ 56’39,5” BT dan 05 ̊ 19’00,8” LS dengan ketinggian 2.840 Mdpl.
2) Dusun Tassoso : 119 ̊ 58’31,2” BT dan 05 ̊ 17’05,9” LS dengan ketinggian 1.510 Mdpl.
c. Sosiologi penduduk di daerah yang dilalui saat kegiatan, mayoritas beragama Islam, berbahasa dan bersuku Konjo yang menunjukkan belum adanya pendatang dari suku lain yang bermukim di tempat tersebut. Serta sarana umum yang terdapat di daerah tersebut masih kurang, disebabkan sulitnya pencapaian lokasi dan minimnya perhatian pemerintah terhadap daerah-daerah terpencil.
B. Saran
Sesuai simpulan yang diuraikan sebelumnya, maka dapat diusulkan saran-saran untuk peningkatan anggota Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE.
1. Perlu ada perhatian khusus dari masyarakat bangsa tercinta ini, utamanya perhatian dari pemerintah untuk menjaga dan melestarikan lingkungan gunung Bawakaraeng dan sekitarnya demi terjaganya kelangsungan ekosistem yang ada.
2. Kepada semua pihak, agar mampu menjadi pencinta alam yang sejati dan bermanfaat bagi Nusa, Bangsa dan Tanah Air.
3. Semoga laporan ini dapat menjadi bahan bacaan dan sumber data tentang gambaran umum pendakian lintas gunung Lompobattang- Bawakaraeng dan bernilai positif bagi kita semua, terutama bagi anggota Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE sehingga daya kreatif dapat lebih produktif di masa yang akan datang.
Sumber Info : Saleh, Warga Dusun Tassoso, Wawancara, Sinjai, Dusun Tassoso, Tanggal 30 April 2012
Mengacu pada rumusan masalah dan uraian yang telah dikemukakan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Dari beberapa uraian hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa klasifikasi data pada lokasi yang telah dilalui oleh peserta pengambilan slayer kuning Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYAH STAI AL-GAZALI BONE adalah:
a. Keanekaragaman flora dan fauna di daerah yang dilalui menunjukkan salah satu ciri khas yang ada di gunung Bawakaraeng dan sekitarnya.
b. Letak koordinat geografis dan ketinggian dari beberapa lokasi yang di lalui selama kegiatan yaitu:
1) Gunung Bawakaraeng : 119 ̊ 56’39,5” BT dan 05 ̊ 19’00,8” LS dengan ketinggian 2.840 Mdpl.
2) Dusun Tassoso : 119 ̊ 58’31,2” BT dan 05 ̊ 17’05,9” LS dengan ketinggian 1.510 Mdpl.
c. Sosiologi penduduk di daerah yang dilalui saat kegiatan, mayoritas beragama Islam, berbahasa dan bersuku Konjo yang menunjukkan belum adanya pendatang dari suku lain yang bermukim di tempat tersebut. Serta sarana umum yang terdapat di daerah tersebut masih kurang, disebabkan sulitnya pencapaian lokasi dan minimnya perhatian pemerintah terhadap daerah-daerah terpencil.
B. Saran
Sesuai simpulan yang diuraikan sebelumnya, maka dapat diusulkan saran-saran untuk peningkatan anggota Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE.
1. Perlu ada perhatian khusus dari masyarakat bangsa tercinta ini, utamanya perhatian dari pemerintah untuk menjaga dan melestarikan lingkungan gunung Bawakaraeng dan sekitarnya demi terjaganya kelangsungan ekosistem yang ada.
2. Kepada semua pihak, agar mampu menjadi pencinta alam yang sejati dan bermanfaat bagi Nusa, Bangsa dan Tanah Air.
3. Semoga laporan ini dapat menjadi bahan bacaan dan sumber data tentang gambaran umum pendakian lintas gunung Lompobattang- Bawakaraeng dan bernilai positif bagi kita semua, terutama bagi anggota Mahasiswa Pencinta Alam HIMALAYA STAI AL-GAZALI BONE sehingga daya kreatif dapat lebih produktif di masa yang akan datang.
Sumber Info : Saleh, Warga Dusun Tassoso, Wawancara, Sinjai, Dusun Tassoso, Tanggal 30 April 2012